Langsung ke konten utama

POJOK RENUNGAN HARIAN PENYULUH AGAAMA KATOLIK

Rabu, 04 Juni 2025

Yoh 17: 11b-19



MENYATU

Tri Sujarwadi

Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Deli Serdang

 

            Dalam sebuah perkawinan tak jarang dijumpai komentar yang meyatakan bahwa “bapak (suami) ini mirip sekali dengan ibu (isteri)”, atau komentar yang sejenis “wajah suami-isteri itu mirip”. Bahkan tak jarang kita dapai ada bahasa atau isyarat khusus di antara suami-isteri yang tidak diketahui oleh orang lain. Sebagai contoh “batuk 3 kali” yang dilakukan seorang isteri atau suami sebagai isyarat tertentu, misalnya agar pembicaraan tentang sesuatu hal kepada orang lain tidak usah diperpanjang, dll. Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena di antara mereka telah terbangun kesatuan, kesamaan. Mereka semakin se-hati, se-pikir, se-perasaan, se-ia, se-kata. Singkatnya mereka “menyatu”.  Ketika sungguh menyatu, maka masing-masing akan tahu apa keinginan pasangannya tanpa diberi tahu. Katika mengalami kebahagiaan maka kebahagiaannya akan semakin lengkap ketika dialami bersama dengan pasangannya. Demikian juga sebaliknya. Ketika ia mengalami hal yang tidak menyenangkan, ia juga tidak takut berbagi beban --bukan untuk melemparkan bebannya, tetapi percaya bahwa pasangannya tentu akan memahami atau membantu. Ia pun, ketika tahu pasangannya sedang mengalami hal yang tidak mengenakkan, ia akan membantu sedapat-dapatnya tanpa diminta.

            Yesus dalam Injil kali ini berdoa untuk para murid dan kita yang dikasihiNya “…Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, …, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, …” (Yoh 17:11-12). Yesus telah sekian waktu bersatu dan bersama para pengikutnya. Maka ketika tiba waktunya harus berpisah dan meninggalkan mereka secara fisik, maka dari doanya itu tampak betapa Yesus telah begitu menyatu dengan para murid-Nya. Dalam doa itu dinyatakan bahwa Yesus akan pergi “kembali menyatu” dengan Bapa, meninggalkan dan terpisah dengan para murid-Nya. Kepergiannya kepada Bapa adalah menyatunya Yesus dalam kesatuan cinta-kasih sempurna Allah. Oleh karena kasihNya kepada para murid-Nya (dan kepada kita) maka Yesus menginginkan agar para murid dan pengikutNya ikut serta menyatu dalam kesatuan sempurna cinta-kasih Allah itu. Ia ingin agar kebahagiaan sempurna bersama Allah itu dialami juga oleh mereka yang dikasihiNya. Oleh sebab itu bisa dikatakan bahwa seluruh karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus itu adalah menyatukan semua orang dan semua makhluk dalam kesatuan cinta-kasih sempurna. Itulah kebahagiaan, itulah syalom, itulah damai sejahtera.

            Kita semua tanpa pandang bulu pada dasarnya berada dalam arus menyatu dengan Allah dan sesama manusia serta ciptaan, menyatu dalam cinta-kasih sempurna, karena Allah adalah cinta-kasih. Kesadaran ini semakin mendesak karena pada masa ini kita semakin dicerai-beraikan karena berbagai konfik akibat perbedaan dan egoisme masing-masing. Menyatu bukan pertama-tama karena keseragaman, tetapi justeru karena keberagaman. Hal ini sejalan dengan istilah “satu tubuh dengan banyak anggota”, karena “ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang” (lih. 1Kor 12).

            Oleh karena itu mari kira “menyatu” membangun kesatuan dan persatuan sebagai sesama anak bangsa, anak masyarakat yang mendiami bumi yang satu dan sama ini. (tri sj)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

POJOK RENUNGAN HARIAN PENYULUH AGAMA KATOLIK Selasa, 03 Juni 2025 Bacaan Injil: Yoh. 17:1-11a       DOA YESUS UNTUK DUNIA Alb Irawan Dwiatmaja Penyuluh Agama Katolik Kankemenag Kabupaten Asahan   Hari ini Gereja Katolik memperingati Santo Karolus Lwanga dan kawan-kawan sebagai martir di Uganda, Afrika. Santo Lwanga dan kawan-kawan harus mengahadapi kekejaman raja Muanga. Raja Muanga merupakan raja yang bejat karena ia memiliki kelainan seks yaitu memuaskan nafsu dengan anak laki-laki. Santo Lwanga mengingatkan kawan-kawannya untuk tidak terjebak dengan bujukan raja Muanga. Raja Muanga mengetahui kalau Santo Lwanga menjadi inspirator pada anak laki-laki untuk tidak terbuai dengan bujukannya. Raha Muanga marah dan ingin membunuh Santo Lwangan dan semua anak laki-laki. Raja Muanga juga tahu kalau Santo Lwanga beragama Kristen. Santo Lwanga mengajak kawan-kawannya untuk tidak gentar pada Raja Muangan sehingga pada akhirnya mereka dibunuh dengan kejam ...
  POJOK RENUNGAN HARIAN PENYULUH AGAMA KATOLIK Senin, 16 Juni 2025 Bacaan injil : (Matius 5:38-42)       TENTANG   MENEKANKAN BAGAIMANA YESUS MEMANGGIL KITA UNTUK MELAMPAUI HUKUM PEMBALASAN DAN HIDUP DALAM KASIH TANPA SYARAT. Sabar Martua Simaramata ( Penyuluh Agama Katolik Kota Binjai)             Dalam khotabh dibukit, Yesus berkata, “kamu telah mendengar yang difirmankan : mata Ganti mata dan gigi Ganti gigi. Namun, Aku berkata kepadamu janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Kepada orang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu.siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak yang mau meminjam darimu.             Nasihat berbunyi kesempatan yang baik ...