Langsung ke konten utama

 POJOK RENUNGAN HARIAN PENYULUH AGAMA KATOLIK

Kamis, 12 Juni 2025, Hari Biasa, Pekan Biasa X

Matius 5: 20-26

HIDUP BERAGAMA YANG BENAR

Roni Samuel James Sihombing, S.Fil

Penyuluh Agama Katolik Kota Pematangsiantar

                    

Perjalanan menuju Damsyik adalah titik balik dalam Hidup Paulus. Ia semula dikenal sebagai seorang penganiaya yang beringas, kejam dan tidak memberi ampun kepada orang-orang yang percaya kepada Kristus. Kini ia menjadi seorang pelayan Kristus yang gigih. Hatinya yang dahulunya tertutup oleh kegelapan dosa kini terbuka oleh cahaya Kristus. Dari pengalaman Paulus ini kita belajar bahwa manusia bisa berubah ke hal yang lebih baik; dan Tuhan tidak menghakimi apalagi menghukum orang-orang yang bertobat, melainkan Ia mengasihi dan mengampuni.

Bacaan hari ini memberi kita inspirasi bagaimana hidup beragama yang benar. Kepada para muridNya, Yesus menyampaikan sebuah pernyataan yang keras, sekaligus sebagai undangan pertobatan yang radikal, berbunyi demikian, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Secara implisit Yesus mengutarakan maksud dan tujuan kedatanganNya ke bumi ini, yakni untuk membangun dunia yang lebih baik dan memberi model hidup beragama dan beriman yang benar, lebih dari sekedar pola hidup keagamaan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Pesan yang sama harus diikuti dan dihidupi oleh para murid Yesus.

Sekarang, bagaimana hidup keagamaan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat pada zaman Yesus. Secara ringkas boleh dikatakan bahwa mereka legalis dan munafik. Legalis berarti mereka melaksanakan hidup keagamaan demi aturan. Karena itu mereka sering menilai diri lebih baik dari orang lain, dan menghakimi orang lain sebagai pihak yang lebih buruk. Sikap yang lebih jauh, mereka kerap bagaikan polisi keagamaan, dan suka mengistimewakan diri dalam hidup. Lebih jauh lagi, mereka kehilangan belas kasih kepada para pendosa, sekalipun bertobat. Mereka menampilkan wajah Allah pemarah dan penghukum, serta menghilangkan wajah Allah yang berbelas kasih. Mereka hidup sebagai polisi keagamaan yang munafik, tanpa menuntut diri sendiri untuk bertobat dan lebih baik.

Kepada para murid Yesus menunjukkan hidup beragama yang benar. Hidup beragama yang benar itu adalah menjalani hidup penuh permenungan di hadapan Tuhan dalam semangat pertobatan. Di situ kita melihat dosa dan kelemahan diri sendiri, percaya akan kemurahan Tuhan, dan kemudian bertobat serta berbalik kepada Tuhan. Selain itu, kita mesti berbelas kasih dan bermurah hati kepada sesama. Rasa perdamaian dan cinta kepada sesama meski tumbuh. Semangat toleransi dan pengampunan yang menjadi citra Allah mesti tampak.

Nabi Yehezkiel menggarisbawahi pesan untuk menghidupi pertobatan dan semangat kemurahan  hati sebagai ciri hidup beragama yang benar. Tuhan berfirman, “Jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang kepada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati”. Jadi hidup beragama yang benar adalah  hidup dengan rendah hati dan dalam semangat pertobatan, bertindak adil dan benar kepada sesama.

Ma dari itu, pesan Yesus hari ini mengingatkan kita bahwa kehidupan rohani harus berangkat dari hati yang baik, dan bukan modus. Jangan menjadi pura-pura baik hanya karena dianggap suci. Rasul Paulus sudah menunjukkan imannya dalam perbuatan sehari-hari. Jangan menjadi pura-pura baik hanya karena ingin dianggap suci. Berbuat baiklah karena memang ingin menjadi orang baik, bukan supaya dipuji orang.

PACE E BENE

Komentar

Postingan populer dari blog ini

POJOK RENUNGAN HARIAN PENYULUH AGAAMA KATOLIK Rabu, 04 Juni 2025 Yoh 17: 11b-19 MENYATU Tri Sujarwadi Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Deli Serdang               Dalam sebuah perkawinan tak jarang dijumpai komentar yang meyatakan bahwa “bapak (suami) ini mirip sekali dengan ibu (isteri)”, atau komentar yang sejenis “wajah suami-isteri itu mirip”. Bahkan tak jarang kita dapai ada bahasa atau isyarat khusus di antara suami-isteri yang tidak diketahui oleh orang lain. Sebagai contoh “batuk 3 kali” yang dilakukan seorang isteri atau suami sebagai isyarat tertentu, misalnya agar pembicaraan tentang sesuatu hal kepada orang lain tidak usah diperpanjang, dll. Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena di antara mereka telah terbangun kesatuan, kesamaan. Mereka semakin se-hati, se-pikir, se-perasaan, se-ia, se-kata. Singkatnya mereka “menyatu”.   Ketika sungguh menyatu, maka masing-masing akan tahu apa keinginan pasanga...
POJOK RENUNGAN HARIAN PENYULUH AGAMA KATOLIK Selasa, 03 Juni 2025 Bacaan Injil: Yoh. 17:1-11a       DOA YESUS UNTUK DUNIA Alb Irawan Dwiatmaja Penyuluh Agama Katolik Kankemenag Kabupaten Asahan   Hari ini Gereja Katolik memperingati Santo Karolus Lwanga dan kawan-kawan sebagai martir di Uganda, Afrika. Santo Lwanga dan kawan-kawan harus mengahadapi kekejaman raja Muanga. Raja Muanga merupakan raja yang bejat karena ia memiliki kelainan seks yaitu memuaskan nafsu dengan anak laki-laki. Santo Lwanga mengingatkan kawan-kawannya untuk tidak terjebak dengan bujukan raja Muanga. Raja Muanga mengetahui kalau Santo Lwanga menjadi inspirator pada anak laki-laki untuk tidak terbuai dengan bujukannya. Raha Muanga marah dan ingin membunuh Santo Lwangan dan semua anak laki-laki. Raja Muanga juga tahu kalau Santo Lwanga beragama Kristen. Santo Lwanga mengajak kawan-kawannya untuk tidak gentar pada Raja Muangan sehingga pada akhirnya mereka dibunuh dengan kejam ...
  POJOK RENUNGAN HARIAN PENYULUH AGAMA KATOLIK Senin, 16 Juni 2025 Bacaan injil : (Matius 5:38-42)       TENTANG   MENEKANKAN BAGAIMANA YESUS MEMANGGIL KITA UNTUK MELAMPAUI HUKUM PEMBALASAN DAN HIDUP DALAM KASIH TANPA SYARAT. Sabar Martua Simaramata ( Penyuluh Agama Katolik Kota Binjai)             Dalam khotabh dibukit, Yesus berkata, “kamu telah mendengar yang difirmankan : mata Ganti mata dan gigi Ganti gigi. Namun, Aku berkata kepadamu janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Kepada orang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu.siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak yang mau meminjam darimu.             Nasihat berbunyi kesempatan yang baik ...