Langsung ke konten utama

 


POJOK RENUNGAN HARIAN PENYULUH AGAMA KATOLIK

Senin, 09 Juni 2025

(Yohanes 19:25-34)

 

  

TIDAK ADA YANG PALING MAMPU MENYEMBUNYIKAN RASA SAKIT

SELAIN SEORANG IBU YANG BERUSAHA KUAT UNTUK ANAK-ANAKNYA

Elia Sudarman Haro Munte, S.Ag

(Penyuluh Agama Katolik Kota Binjai Non PNS)

 

Sebuah ungkapan anonym berkata “Tidak ada yang paling mampu menyembunyikan rasa sakit selain seorang ibu yang berusaha tetap kuat untuk anak-anaknya”. Dalam ungkapan ini tersirat makna cinta, keberanian, dan kebijaksanaan seorang ibu dalam mengandung, melahirkan dan merawat anaknya. Seorang ibu bernama Maria diyakini sebagao Bunda Gereja. Maria yang telah mengalami sebagaimana ibu pada umumnya berkenaan dengan peristiwa anak-anak. Maria berani berdiri dikaki salib anaknya, tanpa takut dan malu walau dimata orang sekelilingnya memahami Puteranya  sebagai penjahat yang layak dihukum mati. Maria mampu berdiri karena cinta yagn besar kepada anaknya.

Cinta yang besar kepada anak-anak merupakan keutamaan intimewa dari seorang ibu. Maria telah menjadi teladan bagi setiap ibu untuk mengatakan tetap mencintai anak meski harus menanggung beban. Maria selain melahirkan dan merawat Yesus ia juga tetap mendampingi dan merawat Gereja mula-mula. Kini banyak anak menjadi beban batin bagi ibu, namun cinta tanpa batas dari ibu dapat menjadi peluang yang salah digunakan oleh anak-anak. Begitulah kita semua sebagai anak-anak Maria dalam arti tertentu dapat salah mengartikan kasih keibuannya. Kasih Maria kepada Gereja terungkap dalam kerelaannya tinggal Bersama Yohanes murid yang dikasihi Yesus serta ia merawat Gereja sejak semula.

Saudara-saudari, kita sebagai umat Katolik sekaligus sebagai seorang penyuluh Agama Katolik, pesan apa yang dapatbkita petik dari Injil hari ini? Sudahkah kita sebagai seorang Katolik sungguh meneladani Bunda Maria sebagai Bunda gereja?.

Tiga hal yang patutu kita contoh dari Bunda Maria seuai kisah Injil hari ini yakni pertama kita diajak untuk senantiasa mencintai. Mencintai diri kita, mencintai sesama, mencintau Tuhan/Gereja dan terlebih-lebih mencintai pekerjaan kita sebagai penyuluh. Kedua kita diajak untuk senantiasa berani untuk melakukan berbagai hal, terutama berani menunjukkan kebenaran, kejujuran dan mewartakan iman. Ketiga kita diajak untuk bijaksana dalam segala hal. Sebagai seorang penyuluh yang bertugas untuk memberikan penerangan, pencerahan kepada umat, sangatlah dibutuhkan kebijaksanaan dalam pelayanan, terutama dalam mengatasi berbagai masalah dilapangan.

Maka marilah kita melakukan tugas-tugas kita sebagai penyuluh agama yang senantiasa membawakan cinta, keberanian dan kebijaksanaan bagi Gereja dan masyarakat. Ketika kita tidak membawa cinta, keberanian dan kebijaksanaan, maka kita juga tidak setia kepada Yesus yang kita Imani dan kepada Maria yang kita teladani. Amin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

POJOK RENUNGAN HARIAN PENYULUH AGAAMA KATOLIK Rabu, 04 Juni 2025 Yoh 17: 11b-19 MENYATU Tri Sujarwadi Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Deli Serdang               Dalam sebuah perkawinan tak jarang dijumpai komentar yang meyatakan bahwa “bapak (suami) ini mirip sekali dengan ibu (isteri)”, atau komentar yang sejenis “wajah suami-isteri itu mirip”. Bahkan tak jarang kita dapai ada bahasa atau isyarat khusus di antara suami-isteri yang tidak diketahui oleh orang lain. Sebagai contoh “batuk 3 kali” yang dilakukan seorang isteri atau suami sebagai isyarat tertentu, misalnya agar pembicaraan tentang sesuatu hal kepada orang lain tidak usah diperpanjang, dll. Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena di antara mereka telah terbangun kesatuan, kesamaan. Mereka semakin se-hati, se-pikir, se-perasaan, se-ia, se-kata. Singkatnya mereka “menyatu”.   Ketika sungguh menyatu, maka masing-masing akan tahu apa keinginan pasanga...
POJOK RENUNGAN HARIAN PENYULUH AGAMA KATOLIK Selasa, 03 Juni 2025 Bacaan Injil: Yoh. 17:1-11a       DOA YESUS UNTUK DUNIA Alb Irawan Dwiatmaja Penyuluh Agama Katolik Kankemenag Kabupaten Asahan   Hari ini Gereja Katolik memperingati Santo Karolus Lwanga dan kawan-kawan sebagai martir di Uganda, Afrika. Santo Lwanga dan kawan-kawan harus mengahadapi kekejaman raja Muanga. Raja Muanga merupakan raja yang bejat karena ia memiliki kelainan seks yaitu memuaskan nafsu dengan anak laki-laki. Santo Lwanga mengingatkan kawan-kawannya untuk tidak terjebak dengan bujukan raja Muanga. Raja Muanga mengetahui kalau Santo Lwanga menjadi inspirator pada anak laki-laki untuk tidak terbuai dengan bujukannya. Raha Muanga marah dan ingin membunuh Santo Lwangan dan semua anak laki-laki. Raja Muanga juga tahu kalau Santo Lwanga beragama Kristen. Santo Lwanga mengajak kawan-kawannya untuk tidak gentar pada Raja Muangan sehingga pada akhirnya mereka dibunuh dengan kejam ...
  POJOK RENUNGAN HARIAN PENYULUH AGAMA KATOLIK Senin, 16 Juni 2025 Bacaan injil : (Matius 5:38-42)       TENTANG   MENEKANKAN BAGAIMANA YESUS MEMANGGIL KITA UNTUK MELAMPAUI HUKUM PEMBALASAN DAN HIDUP DALAM KASIH TANPA SYARAT. Sabar Martua Simaramata ( Penyuluh Agama Katolik Kota Binjai)             Dalam khotabh dibukit, Yesus berkata, “kamu telah mendengar yang difirmankan : mata Ganti mata dan gigi Ganti gigi. Namun, Aku berkata kepadamu janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Kepada orang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu.siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak yang mau meminjam darimu.             Nasihat berbunyi kesempatan yang baik ...