DOA YESUS SEMOGA MEREKA SEMUA MENJADI SATU
Yoh 17: 20-26
Dalam bacaan Injil hari ini, kita diajak untuk mengerti arti dan makna doa agung Yesus yang berkata, “Dan Aku tidak hanya berdoa untuk mereka, tetapi juga untuk orang-orang yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka: supaya mereka semua menjadi satu sama ...” Sesungguhnya doa Yesus ini tidak hanya diperuntukkan bagi para murid yang hadir saat itu, tetapi juga untuk umat beriman yang percaya dan akan percaya kepada Yesus. Sorotan utama kesatuan bukan terutama tentang kesatuan organisasi atau struktur, melainkan persekutuan spiritual yang berakar dalam kasih Allah sendiri. Bukan juga sekadar kebersamaan secara lahiriah, melainkan kesatuan dalam kasih, kehendak, dan tujuan. Yesus ingin agar semua para pengikut-Nya dan yang akan mengikuti Dia mampu memiliki hati dan pikiran yang sehati sepikir, hidup dalam damai, saling mengasihi, dan memiliki tujuan yang sama, yaitu memuliakan Allah dan mewartakan Injil. Hal Ini menuntut kerendahan hati, pengampunan, dan saling pengertian. Doa Yesus untuk mewujudkan kesatuan diantara pengikut-Nya selaras dengan motto Sri Paus Leo XIV In Illo Uno Unum artinya " artinya, Dalam Dia yang Satu, kita menjadi satu". Prinsip utama motto Paus Leo XIV bukan terutama menonjolkan kesatuan hirarki Gereja bagi saudara yang terpisah , tetapi bagaiamana setiap pengikut-Nya mampu berpartisipasi dalam kehidupan Tritunggal Mahakudus dan semua pihak berani membangun dialog, partisipasi, dan misi bersama sebagai pilar sinodalitas—yakni berjalan bersama sebagai umat Allah. Perbedaan bukanlah sebagai ancaman, tetapi sebagai kekayaan yang memperkaya tubuh Gereja.
Teladan konkrit bagaimana kita mengimplementasikan dan menghidupi semangat kesatuan yang diharapkan Yesus dari kita dalam doanya, sama seperti yang dilakukan Stefanus dalam bacaan pertama. Penderitaannya yang dihukum mati dengan cara dilempari batu karena setia dan taat mempertahankan imannya mampu disatukannya dengan pendertiaan Yesus. Dalam doanya dia memohon ampun bagi para penganiayanya, "Ya Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" Teladan Stefanus sungguh merupakan wujud kesatuan yang sempurna dengan Kristus, kesatuan dalam kasih dan pengampunan. Kesaksiannya merupakan bukti nyata bahwa kemuliaan Allah menyertai mereka yang bersatu dengan Kristus, bahkan di tengah badai terbesar. Ia menjadi martir, saksi yang mati demi imannya, dan melalui kematiannya, ia mencapai kesatuan yang paling intim dengan Yesus dalam kemuliaan-Nya. Bagaimana dengan kita, apakah mampu menjadi pembawa kebenaran Tuhan untuk mewjudkan visi misi Doa Yesus di tengah perbedaan yang ada tanpa harus menyakiti dan mengusik orang lain? Apakah kita juga sanggup seperti Stefanus yang senantiasa setia dan taat mempersatukan seluruh warna kehidupan ini dengan Kristus yang kita Imani? Jika ya, maka kita tentu sudah menjadi saksi dan pelaku doa Yesus yang kita refleksikan hari ini. Semoga, Amin.
Renungan untuk Hari Minggu 1 Juni 2025, By. Hamma Sitohang- Penyuluh Katolik Kota Medan.
Komentar
Posting Komentar