Langsung ke konten utama

Renungan Harian, 02 Juni 2025


Tema : Mencapai Kebahagiaan Sejati Oleh : 
Dra. Agustina Br. Bagariang, M.Pd.
Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kota Binjai

I. Pengertian Kebahagiaan Kebahagiaan (happiness) adalah suatu perasaan menyenangkan yang ditunjukkan dengan kenikmatan, kepuasan, kenyamanan, kegembiraan atau emosi positif yang membuat kehidupan menjadi baik dalam kesejahteraan, keamanan atau pemenuhan keinginan. Kebahagiaan bersifat abstrak dan tidak dapat disentuh atau diraba. Kebahagiaan erat berhubungan dengan kejiwaan dari yang bersangkutan. II. Aspek-Aspek Kebahagiaan Menurut Seligman (2005), terdapat lima aspek utama kebahagiaan, yaitu sebagai berikut: a. Terjalinnya hubungan positif dengan orang lain Hubungan positif yang dimaksud bukanlah hanya sekedar memiliki teman, pasangan, ataupun anak, tetapi dengan menjalin hubungan yang positif/hubungan baik dengan individu atau orang-orang yang ada disekitarnya, dan hal tersebut akan berjalan dengan lebih baik bila ada dukungan dalam menjalin hubungan positif secara sosial, misalnya dengan menjaga mengembangkan harga diri, mengurangi sedemikian rupa masalah-masalah psikologis, kemampuan pemecahan masalah yang adaptif, dan membuat individu menjadi sehat secara fisik. b. Keterlibatan penuh Keterlibatan penuh bukan hanya pada karier, tetapi juga dalam aktivitas lain seperti hobi dan aktivitas bersama keluarga. Melibatkan diri secara penuh, bukan hanya fisik yang beraktivitas, tetapi hati dan pikiran juga turut serta dalam aktivitas tersebut. Dalam hal ini fisik maupun psikis sebagai suatu keutuhan tidak dapat terpisahkan, akan tetapi keduanya menjadi suatu kesatuan yang harus terlibat dalam aktivitas apapun yang dilakukan oleh seseorang. c. Penemuan makna dalam keseharian Dalam keterlibatan penuh dan hubungan positif dengan orang lain tersirat satu cara lain untuk dapat bahagia, yakni menemukan makna dalam apapun yang dilakukan. Individu yang bahagia akan menemukan makna di setiap apapun yang dilakukannya maksudnya bahwa yang dilakukan itu memiliki daya manfaat / kegunaan dalam hidup kesehariannya baik bagi dirinya maupun orang-orang yang ada di sekelilingnya. d. Optimisme yang realistis Individu yang optimis mengenai masa depan merasa lebih bahagia dan puas dengan kehidupannya. Individu yang mengevaluasi dirinya dengan cara yang positif, akan memiliki kontrol yang baik terhadap hidupnya, sehingga memiliki impian dan harapan yang positif tentang masa depan. Hal ini akan tercipta bila sikap optimis yang dimiliki individu bersifat realistis. e. Resiliensi Orang yang berbahagia bukan berarti tidak pernah mengalami penderitaan. Kebahagiaan tidak bergantung pada seberapa banyak peristiwa menyenangkan yang dialami, melainkan sejauh mana seseorang memiliki resiliensi, yakni kemampuan untuk bangkit dari peristiwa yang tidak menyenangkan sekalipun. Masih menurut Seligman (2005), kebahagiaan juga dapat diidentifikasikan secara objektif ke dalam pemenuhan beberapa hal, yaitu sebagai berikut: 1. Terpenuhinya kebutuhan fisiologis (material), misalnya makan, minum, pakaian, kendaraan, rumah, kehidupan seksual, kesehatan fisik, dan sebagainya. 2. Terpenuhinya kebutuhan psikologis (emosional), misalnya, adanya perasaan tenteram, damai, nyaman, dan aman, serta tidak menderita konflik batin, depresi, kecemasan, frustrasi, dan sebagainya. 3. Terpenuhinya kebutuhan sosial, misalnya memiliki hubungan yang harmonis dengan orang-orang di sekelilingnya, terutama keluarga, saling menghormati, mencintai, dan menghargai. 4. Terpenuhinya kebutuhan spiritual, misalnya mampu melihat seluruh episode kehidupan dari perspektif makna hidup yang lebih luas, beribadah, dan memiliki keimanan kepada Tuhan. Ciri-ciri Orang yang Bahagia Menurut Myers (2002), kebahagiaan pada diri individu dapat ditandai dengan beberapa karakteristik atau ciri-ciri, antara lain yaitu sebagai berikut: a. Menghargai diri sendiri Orang yang bahagia cenderung menyukai dirinya sendiri. Mereka cenderung setuju dengan pernyataan seperti “Saya adalah orang yang menyenangkan”. Umumnya orang yang bahagia adalah orang yang memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi untuk menyetujui pernyataan seperti di atas. b. Optimis Individu yang bahagia akan menunjukkan optimisme yang tinggi. Individu biasanya telah memprediksi dan membayangkan masa depan secara lebih optimis dan yakin akan berhasil. Hal ini membuat individu lebih sukses, sehat dan lebih bahagia di kemudian hari. c. Terbuka Individu yang bahagia biasanya lebih terbuka terhadap orang lain serta membantu orang lain yang membutuhkan bantuannya. Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang tergolong sebagai orang ekstrover akan mudah bersosialisasi dengan orang lain sehingga memiliki kebahagiaan yang lebih besar. d. Mampu mengendalikan diri Orang yang bahagia pada umumnya merasa memiliki kontrol pada hidupnya. Mereka merasa memiliki kekuatan atau kelebihan sehingga biasanya mereka berhasil lebih baik di sekolah atau pekerjaan. Dengan demikian orang yang mampu mengendalikan diri akan merasa lebih bahagia. III. Kebahagiaan Sejati Apa Itu Kebahagiaan Sejati? Kebahagiaan sejati adalah keadaan batin yang damai dan puas, yang tidak hanya didasarkan pada keadaan eksternal, tetapi lebih pada pemahaman dan penerimaan diri sendiri. Ini adalah kebahagiaan yang bertahan lama dan tidak mudah goyah oleh perubahan situasi atau kondisi. Kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan yang berasal dari dalam diri kita sendiri, bukan dari hal-hal di luar diri kita. Mengapa Kebahagiaan Sejati Penting? Kebahagiaan sejati sangat penting karena itu adalah tujuan utama dalam hidup kita. Semua orang ingin bahagia, dan kebahagiaan sejati adalah bentuk kebahagiaan tertinggi yang bisa kita capai. Kebahagiaan sejati memberikan kita rasa damai dan puas yang tidak bisa kita dapatkan dari hal-hal material. Kebahagiaan sejati membuat kita merasa berharga dan memiliki makna dalam hidup. Ini adalah sumber motivasi dan inspirasi yang kuat yang mendorong kita untuk terus berkembang dan mencapai tujuan hidup kita. Salve.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

POJOK RENUNGAN HARIAN PENYULUH AGAAMA KATOLIK Rabu, 04 Juni 2025 Yoh 17: 11b-19 MENYATU Tri Sujarwadi Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Deli Serdang               Dalam sebuah perkawinan tak jarang dijumpai komentar yang meyatakan bahwa “bapak (suami) ini mirip sekali dengan ibu (isteri)”, atau komentar yang sejenis “wajah suami-isteri itu mirip”. Bahkan tak jarang kita dapai ada bahasa atau isyarat khusus di antara suami-isteri yang tidak diketahui oleh orang lain. Sebagai contoh “batuk 3 kali” yang dilakukan seorang isteri atau suami sebagai isyarat tertentu, misalnya agar pembicaraan tentang sesuatu hal kepada orang lain tidak usah diperpanjang, dll. Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena di antara mereka telah terbangun kesatuan, kesamaan. Mereka semakin se-hati, se-pikir, se-perasaan, se-ia, se-kata. Singkatnya mereka “menyatu”.   Ketika sungguh menyatu, maka masing-masing akan tahu apa keinginan pasanga...
POJOK RENUNGAN HARIAN PENYULUH AGAMA KATOLIK Selasa, 03 Juni 2025 Bacaan Injil: Yoh. 17:1-11a       DOA YESUS UNTUK DUNIA Alb Irawan Dwiatmaja Penyuluh Agama Katolik Kankemenag Kabupaten Asahan   Hari ini Gereja Katolik memperingati Santo Karolus Lwanga dan kawan-kawan sebagai martir di Uganda, Afrika. Santo Lwanga dan kawan-kawan harus mengahadapi kekejaman raja Muanga. Raja Muanga merupakan raja yang bejat karena ia memiliki kelainan seks yaitu memuaskan nafsu dengan anak laki-laki. Santo Lwanga mengingatkan kawan-kawannya untuk tidak terjebak dengan bujukan raja Muanga. Raja Muanga mengetahui kalau Santo Lwanga menjadi inspirator pada anak laki-laki untuk tidak terbuai dengan bujukannya. Raha Muanga marah dan ingin membunuh Santo Lwangan dan semua anak laki-laki. Raja Muanga juga tahu kalau Santo Lwanga beragama Kristen. Santo Lwanga mengajak kawan-kawannya untuk tidak gentar pada Raja Muangan sehingga pada akhirnya mereka dibunuh dengan kejam ...
  POJOK RENUNGAN HARIAN PENYULUH AGAMA KATOLIK Senin, 16 Juni 2025 Bacaan injil : (Matius 5:38-42)       TENTANG   MENEKANKAN BAGAIMANA YESUS MEMANGGIL KITA UNTUK MELAMPAUI HUKUM PEMBALASAN DAN HIDUP DALAM KASIH TANPA SYARAT. Sabar Martua Simaramata ( Penyuluh Agama Katolik Kota Binjai)             Dalam khotabh dibukit, Yesus berkata, “kamu telah mendengar yang difirmankan : mata Ganti mata dan gigi Ganti gigi. Namun, Aku berkata kepadamu janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Kepada orang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu.siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak yang mau meminjam darimu.             Nasihat berbunyi kesempatan yang baik ...