Tema : Mencapai Kebahagiaan Sejati Oleh :
Dra. Agustina Br. Bagariang, M.Pd.
Penyuluh Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kota Binjai
I. Pengertian Kebahagiaan
Kebahagiaan (happiness) adalah suatu perasaan menyenangkan yang ditunjukkan dengan kenikmatan, kepuasan, kenyamanan, kegembiraan atau emosi positif yang membuat kehidupan menjadi baik dalam kesejahteraan, keamanan atau pemenuhan keinginan. Kebahagiaan bersifat abstrak dan tidak dapat disentuh atau diraba. Kebahagiaan erat berhubungan dengan kejiwaan dari yang bersangkutan.
II. Aspek-Aspek Kebahagiaan
Menurut Seligman (2005), terdapat lima aspek utama kebahagiaan, yaitu sebagai berikut:
a. Terjalinnya hubungan positif dengan orang lain
Hubungan positif yang dimaksud bukanlah hanya sekedar memiliki teman, pasangan, ataupun anak, tetapi dengan menjalin hubungan yang positif/hubungan baik dengan individu atau orang-orang yang ada disekitarnya, dan hal tersebut akan berjalan dengan lebih baik bila ada dukungan dalam menjalin hubungan positif secara sosial, misalnya dengan menjaga mengembangkan harga diri, mengurangi sedemikian rupa masalah-masalah psikologis, kemampuan pemecahan masalah yang adaptif, dan membuat individu menjadi sehat secara fisik.
b. Keterlibatan penuh
Keterlibatan penuh bukan hanya pada karier, tetapi juga dalam aktivitas lain seperti hobi dan aktivitas bersama keluarga. Melibatkan diri secara penuh, bukan hanya fisik yang beraktivitas, tetapi hati dan pikiran juga turut serta dalam aktivitas tersebut. Dalam hal ini fisik maupun psikis sebagai suatu keutuhan tidak dapat terpisahkan, akan tetapi keduanya menjadi suatu kesatuan yang harus terlibat dalam aktivitas apapun yang dilakukan oleh seseorang.
c. Penemuan makna dalam keseharian
Dalam keterlibatan penuh dan hubungan positif dengan orang lain tersirat satu cara lain untuk dapat bahagia, yakni menemukan makna dalam apapun yang dilakukan. Individu yang bahagia akan menemukan makna di setiap apapun yang dilakukannya maksudnya bahwa yang dilakukan itu memiliki daya manfaat / kegunaan dalam hidup kesehariannya baik bagi dirinya maupun orang-orang yang ada di sekelilingnya.
d. Optimisme yang realistis
Individu yang optimis mengenai masa depan merasa lebih bahagia dan puas dengan kehidupannya. Individu yang mengevaluasi dirinya dengan cara yang positif, akan memiliki kontrol yang baik terhadap hidupnya, sehingga memiliki impian dan harapan yang positif tentang masa depan. Hal ini akan tercipta bila sikap optimis yang dimiliki individu bersifat realistis.
e. Resiliensi
Orang yang berbahagia bukan berarti tidak pernah mengalami penderitaan. Kebahagiaan tidak bergantung pada seberapa banyak peristiwa menyenangkan yang dialami, melainkan sejauh mana seseorang memiliki resiliensi, yakni kemampuan untuk bangkit dari peristiwa yang tidak menyenangkan sekalipun.
Masih menurut Seligman (2005), kebahagiaan juga dapat diidentifikasikan secara objektif ke dalam pemenuhan beberapa hal, yaitu sebagai berikut:
1. Terpenuhinya kebutuhan fisiologis (material), misalnya makan, minum, pakaian, kendaraan, rumah, kehidupan seksual, kesehatan fisik, dan sebagainya.
2. Terpenuhinya kebutuhan psikologis (emosional), misalnya, adanya perasaan tenteram, damai, nyaman, dan aman, serta tidak menderita konflik batin, depresi, kecemasan, frustrasi, dan sebagainya.
3. Terpenuhinya kebutuhan sosial, misalnya memiliki hubungan yang harmonis dengan orang-orang di sekelilingnya, terutama keluarga, saling menghormati, mencintai, dan menghargai.
4. Terpenuhinya kebutuhan spiritual, misalnya mampu melihat seluruh episode kehidupan dari perspektif makna hidup yang lebih luas, beribadah, dan memiliki keimanan kepada Tuhan.
Ciri-ciri Orang yang Bahagia
Menurut Myers (2002), kebahagiaan pada diri individu dapat ditandai dengan beberapa karakteristik atau ciri-ciri, antara lain yaitu sebagai berikut:
a. Menghargai diri sendiri
Orang yang bahagia cenderung menyukai dirinya sendiri. Mereka cenderung setuju dengan pernyataan seperti “Saya adalah orang yang menyenangkan”. Umumnya orang yang bahagia adalah orang yang memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi untuk menyetujui pernyataan seperti di atas.
b. Optimis
Individu yang bahagia akan menunjukkan optimisme yang tinggi. Individu biasanya telah memprediksi dan membayangkan masa depan secara lebih optimis dan yakin akan berhasil. Hal ini membuat individu lebih sukses, sehat dan lebih bahagia di kemudian hari.
c. Terbuka
Individu yang bahagia biasanya lebih terbuka terhadap orang lain serta membantu orang lain yang membutuhkan bantuannya. Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang tergolong sebagai orang ekstrover akan mudah bersosialisasi dengan orang lain sehingga memiliki kebahagiaan yang lebih besar.
d. Mampu mengendalikan diri
Orang yang bahagia pada umumnya merasa memiliki kontrol pada hidupnya. Mereka merasa memiliki kekuatan atau kelebihan sehingga biasanya mereka berhasil lebih baik di sekolah atau pekerjaan. Dengan demikian orang yang mampu mengendalikan diri akan merasa lebih bahagia.
III. Kebahagiaan Sejati
Apa Itu Kebahagiaan Sejati?
Kebahagiaan sejati adalah keadaan batin yang damai dan puas, yang tidak hanya didasarkan pada keadaan eksternal, tetapi lebih pada pemahaman dan penerimaan diri sendiri. Ini adalah kebahagiaan yang bertahan lama dan tidak mudah goyah oleh perubahan situasi atau kondisi. Kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan yang berasal dari dalam diri kita sendiri, bukan dari hal-hal di luar diri kita.
Mengapa Kebahagiaan Sejati Penting?
Kebahagiaan sejati sangat penting karena itu adalah tujuan utama dalam hidup kita. Semua orang ingin bahagia, dan kebahagiaan sejati adalah bentuk kebahagiaan tertinggi yang bisa kita capai. Kebahagiaan sejati memberikan kita rasa damai dan puas yang tidak bisa kita dapatkan dari hal-hal material. Kebahagiaan sejati membuat kita merasa berharga dan memiliki makna dalam hidup. Ini adalah sumber motivasi dan inspirasi yang kuat yang mendorong kita untuk terus berkembang dan mencapai tujuan hidup kita. Salve.
Komentar
Posting Komentar