RENUNGAN HARIAN KATOLIK
Jumat, 06 Juni 2025
APAKAH
KITA MENGASIHI YESUS?
Sorang
Tumanggor, S.Ag
Penyuluh
Agama Katolik Kabupaten Dairi
Ketika merehab sebuah rumah, seorang tukang yang kami
percayakan memperbaikinya berkata bahwa jauh lebih gampang membangun yang baru
dibandingkan dengan memperbaiki yang sudah rusak. Memperbaiki berarti
membetulkan kesalahan, kerusakan, dan sebagainya; menjadikan lebih baik, lebih bagus,
lebih rapi, dan sebagainya. Memang memperbaiki yang rusak berarti mengerjakan dua
kali suatu pekerjaan. Banyak waktu disia-siakan, banyak tenaga yang mubazir.
Tetapi itulah yang dibuat oleh Yesus. Untuk memulihkan
dan memperbaiki kembali kasih Petrus kepada Yesus yang telah rusak setelah ia
menyangkal-Nya tiga kali, Yesus mengajukan pertanyaan kepada Petrus:
"Apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?" Sebelum
penyaliban Yesus, Petrus telah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Padahal
sebelumnya, Petrus telah menyatakan bahwa kasihnya pada Yesus lebih besar dari
murid-murid yang lain.
Dalam bacaan Injil hari ini (Yohanes 21:15-19)
dikisahkan bahwa kendati Petrus telah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali,
Yesus tidak menolaknya. Yesus tetap menerima Petrus apa adanya. Melalui
kesempatan makan bersama murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias, Yesus secara
khusus berbicara dengan Petrus untuk meneguhkan kembali panggilannya. Yesus
mengajukan pertanyaan apakah Petrus mengasihi Dia lebih dari semua yang lain:
harta benda, profesi, keluarga, rekan-rekannya, dan bahkan dirinya sendiri.
Setelah menerima pengakuan Petrus atas kasihnya, Yesus
pun meminta Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Yesus menyuruh Petrus
menjadi gembala atas umat-Nya karena Yesus akan segera meninggalkan mereka.
Mereka membutuhkan gembala yang dapat memimpin dan menjaga. Jika Petrus sungguh
mengasihi Yesus, ia akan bersedia memperhatikan domba-domba Tuhannya. Ia akan
mencari domba yang hilang, ia akan membimbing domba yang lemah. Dan seperti
Gembala yang baik itu, ia akan menyerahkan nyawanya bagi domba-dombanya.
Sebagai pengikut Yesus, pertanyaan yang sama diajukan-Nya
kepada kita. Apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Yesus? Yesus tahu seberapa
kita mengasihi-Nya dan hanya Dialah yang mampu mengajar kita untuk
mengasihi-Nya dengan kasih yang Ia kehendaki. Kita sungguh-sungguh bergantung
penuh pada kasih dan kemurahan Allah yang memperbarui dan mendewasakan kasih
kita. Pertanyaan Yesus tentang kasih Petrus kepada-Nya, menjadi dasar utama
bagi pelayanan penggembalaan yang akan dipercayakan-Nya kepada Petrus. Seorang
gembala sejati adalah yang memiliki kasih kepada Gembala Agung, yaitu Yesus,
sehingga kasihnya pun nyata bagi umat gembalaannya.
Ketika Petrus menjawab pertanyaan Yesus ketiga
kalinya, dengan sedih hati ia menyadari siapa dirinya; seorang murid yang
pernah menyangkal Gurunya, namun kini dilayakkan kembali untuk mengasihi
Gurunya. Bahkan ladang pelayanan telah disiapkan-Nya bagi Petrus agar ia
menjadi gembala bagi domba-domba-Nya.
Belajar dari penerimaan Yesus atas diri Petrus, kita
dikuatkan bahwa Tuhan tidak pernah menolak kita. Tangan-Nya tetap terbuka
menyambut kita. Yang perlu kita lakukan adalah berbalik dan kembali mengasihi
Dia lebih dari segala yang lain. Dalam melakukan semua itu, kita harus tetap
fokus pada tugas dan panggilan kita masing-masing agar orang lain mendapatkan
berkat dan Tuhan dimuliakan.
Kasih kepada Tuhan memang tidak bisa dinyatakan hanya
dengan kata-kata belaka. Kasih harus dinyatakan di dalam perbuatan kita. Ketika
kita menghadapi tantangan apakah kita memiliki kerendahan hati dan kerelaan
untuk berkorban? Masih mampukah kita melayani dengan kasih dalam berbagai
situasi sulit?

Komentar
Posting Komentar