Langsung ke konten utama

 

RENUNGAN HARIAN PENYULUH AGAMA KATOLIK

Rabu, 11 Juni 2025

 

KESEDERHANAAN:

JALAN MENUJU KEDAMAIAN BATIN

Mat 10: 7-13

Hotman Manalu, SAg, MPd

Penyuluh Agama Katolik Kab Deli Serdang

 

Beriman di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan media sosial zaman ini memiliki tantangan tersendiri. Ada kecenderungan manusia semakin terikat pada harta benda. Kebahagiaan dan kesuksesan sering diukur berdasarkan kepemilikan materi, seperti rumah mewah, kendaraan mahal, dan gaya hidup eksklusif. Banyak orang merasa perlu mengikuti trend agar diterima dalam pergaulan. Benarkah kebahagiaan sejati datang dari barang mewah atau gaya hidup mahal?

Dalam Injil hari ini Yesus menasihatkan “Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya”. (Mat 10: 9-10). Yesus menasihatkan para murid-Nya agar melepaskan kemelekatan pada materi dan hidup sederhana. Tujuannya adalah agar para murid tidak mudah dilemahkan oleh kekhawatiran dan ketakutan rasa lapar, tak punya uang, pakaian dan tempat tinggal. Yesus mengawaskan supaya kekawatiran tersebut tidak menguasai hati dan pikiran para murid. Yesus menekankan bahwa banyak tantangan hidup yang lebih besar dibandingan dengan kecemasan akan kekurangan makanan dan minuman. Lebih dari itu, Yesus ingin para murid menjalani hidup yang sulit ini dengan lebih mengandalkan kemurahan Tuhan. Para murid hanya perlu mengayuhkan langkah-langkah iman. Jangan terlalu mengkhawatirkan segala sesuatu, yang sesungguhnya sudah disediakan Tuhan.

Injil hari ini mengajak kita hidup sederhana. Hidup sederhana bukan berarti hidup dalam kekurangan atau menolak kenyamanan duniawi. Kesederhanaan lebih berkaitan dengan sikap hati yang tidak terikat pada materi, mampu bersyukur atas apa yang dimiliki, serta menggunakan harta dengan bijaksana. Santo Fransiskus Assisi memilih meninggalkan kekayaan duniawi agar dapat hidup sepenuhnya dalam kasih Tuhan. Baginya, kesederhanaan bukan sekadar pelepasan benda-benda materi, tetapi sebuah kebebasan batin untuk mencintai Tuhan dengan sepenuh hati.

Ayat ini menegaskan bahwa hidup sederhana membantu kita memusatkan hati pada hal-hal yang kekal, bukan sekadar pada kesenangan duniawi. Kesederhanaan juga mencerminkan sikap kerendahan hati dan ketaatan kepada kehendak Tuhan. Kesederhanaan memungkinkan kita untuk lebih menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup. Ketika seseorang tidak lagi terjebak dalam mengejar harta atau gengsi sosial, ia lebih mudah merasakan kedamaian batin dan kehadiran ilahi.

Tanpa keterikatan pada kepemilikan materi, seseorang lebih mampu meluangkan waktu untuk doa, refleksi, dan pelayanan kepada sesama. Dengan kata lain, kesederhanaan menciptakan ruang bagi pertumbuhan spiritual. Santo Ignatius dari Loyola mengajarkan bahwa kesederhanaan itu membawa kedamaian dalam hati. Hidup sederhana membantu kita untuk lebih fokus pada kehendak Tuhan dan mengalami kedamaian sejati dalam hidup.

Hidup sederhana bukan hanya soal mengurangi kepemilikan, tetapi juga mengarah pada Tuhan. Dengan hidup sederhana, kita belajar bersyukur, lebih peka terhadap kebutuhan sesama, dan lebih fokus pada hal-hal yang bernilai kekal. Hidup sederhana mengajarkan kita untuk lebih menghargai kehidupan, melihat keindahan dalam hal-hal kecil, dan menyadari bahwa kebahagiaan sejati tidak bergantung pada materi. Dengan demikian, hidup sederhana bukanlah sekadar pilihan, tetapi panggilan bagi setiap orang yang ingin semakin dekat dengan Tuhan dan mengalami damai sejati dalam hidupnya.

Lewat doanya St. Katharina dari Siena mengajari kita untuk meninggalkan keinginan diri, “Ya, Allah, kehendak-Mu yang mulia dan kekal adalah agar kami menjadi kudus. Oleh karena itu, jiwa yang ingin menjadi kudus akan menanggalkan keinginannya sendiri dan mengenakan kehendak-Mu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

POJOK RENUNGAN HARIAN PENYULUH AGAAMA KATOLIK Rabu, 04 Juni 2025 Yoh 17: 11b-19 MENYATU Tri Sujarwadi Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Deli Serdang               Dalam sebuah perkawinan tak jarang dijumpai komentar yang meyatakan bahwa “bapak (suami) ini mirip sekali dengan ibu (isteri)”, atau komentar yang sejenis “wajah suami-isteri itu mirip”. Bahkan tak jarang kita dapai ada bahasa atau isyarat khusus di antara suami-isteri yang tidak diketahui oleh orang lain. Sebagai contoh “batuk 3 kali” yang dilakukan seorang isteri atau suami sebagai isyarat tertentu, misalnya agar pembicaraan tentang sesuatu hal kepada orang lain tidak usah diperpanjang, dll. Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena di antara mereka telah terbangun kesatuan, kesamaan. Mereka semakin se-hati, se-pikir, se-perasaan, se-ia, se-kata. Singkatnya mereka “menyatu”.   Ketika sungguh menyatu, maka masing-masing akan tahu apa keinginan pasanga...
POJOK RENUNGAN HARIAN PENYULUH AGAMA KATOLIK Selasa, 03 Juni 2025 Bacaan Injil: Yoh. 17:1-11a       DOA YESUS UNTUK DUNIA Alb Irawan Dwiatmaja Penyuluh Agama Katolik Kankemenag Kabupaten Asahan   Hari ini Gereja Katolik memperingati Santo Karolus Lwanga dan kawan-kawan sebagai martir di Uganda, Afrika. Santo Lwanga dan kawan-kawan harus mengahadapi kekejaman raja Muanga. Raja Muanga merupakan raja yang bejat karena ia memiliki kelainan seks yaitu memuaskan nafsu dengan anak laki-laki. Santo Lwanga mengingatkan kawan-kawannya untuk tidak terjebak dengan bujukan raja Muanga. Raja Muanga mengetahui kalau Santo Lwanga menjadi inspirator pada anak laki-laki untuk tidak terbuai dengan bujukannya. Raha Muanga marah dan ingin membunuh Santo Lwangan dan semua anak laki-laki. Raja Muanga juga tahu kalau Santo Lwanga beragama Kristen. Santo Lwanga mengajak kawan-kawannya untuk tidak gentar pada Raja Muangan sehingga pada akhirnya mereka dibunuh dengan kejam ...
  POJOK RENUNGAN HARIAN PENYULUH AGAMA KATOLIK Senin, 16 Juni 2025 Bacaan injil : (Matius 5:38-42)       TENTANG   MENEKANKAN BAGAIMANA YESUS MEMANGGIL KITA UNTUK MELAMPAUI HUKUM PEMBALASAN DAN HIDUP DALAM KASIH TANPA SYARAT. Sabar Martua Simaramata ( Penyuluh Agama Katolik Kota Binjai)             Dalam khotabh dibukit, Yesus berkata, “kamu telah mendengar yang difirmankan : mata Ganti mata dan gigi Ganti gigi. Namun, Aku berkata kepadamu janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Kepada orang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu.siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak yang mau meminjam darimu.             Nasihat berbunyi kesempatan yang baik ...